Kamis, 11 Oktober 2012

Makalah Antropologi


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Antropologi sebagai disiplin ilmu yang terus berkembang, yang tidak hanya pada tataran teoritis tetapi juga sebagai ilmu terapan yang mampu memberikan masukan bagi para pembuat keputusan dalam menentukan kebijakan pembangunan.
Di Indonesia perkembangan antropologi sebagai disiplin ilmu yang dipelajari para mahasiswa di perguruan tinggi masih tergolong baru. Salah satu tokoh penting dalam perkembangan di Indonesia Koentjaraningrat, sehingga dapat dikatakan bahwa Ia merupakan bapak antropologi di Indonesia.
Sebagai disiplin ilmu antropologi merupakan kajian multidispliner yang berupaya mengkaji aspek manusia secara menyeluruh (holistik). Secara historis antropologi berkembang dari suatu deskripsi hasil-hasil laporan perjalanan para penjelajah dan penjajah tentang kehidupan manusia di daerah yang disinggahi para penjelajah, atau kehidupan salah satu suku bangsa yang tinggal di daerah jajahan. Deskripsi tersebut dikenal dengan nama etnografi.
Dalam perjalanannya antropologi berkembang sebagaimana keberadaannya sekarang baik di negara-negara Eropa barat, Amerika maupun di Asia. Beberapa cabang antropologi yang dikenal secara luas saat ini adalah antropologi fisik atau biologi, antropologi social, dan antropologi budaya. Disisi yang lain antropologi juga merupakan bidang ilmu terapan sehingga hasil kajiannya dapat dimanfaatkan sebagai masukan dalam pengambilan keputusan untuk keperluan pembangunan, terutama dalam pembangunan dalam sosial budaya, seperti antropologi pembangunan, antropologi kesehatan, antropologi ekonomi dan sebagainya.








1.2.Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan permasalahan dalam penulisan ini seperti berikut ini:
1.      Bagaimanakah latar belakang lahirnya antropologi,,,,???
2.      Apa Definisi antropologi,,,,,???
3.      Bagaimanakah fase-fase perkembangan antropologi,,,???


1.3. Tujuan Penulisan
Adapun yang menjadi tujuan penulisan ini, seperti berikut ini:
1.      Untuk memenuhi tugas mata kuliah Antropologi
2.      Sebagai bahan referensi tambahan dalam hal peningkatan pengetahuan tentang perkembangan antropologi.



















BAB II
PEMBAHASAN

2.1.  Latar Belakang Lahirnya Antropologi
Antropologi pada masa perkembangan awalnya tidak dapat dipisahkan dengan karya-karya para penulis yang mencatat gambaran kehidupan penduduk atau suku bangsa di luar Eropa. Pada saat itu, kehidupan penduduk di luar Eropa dipandang menarik oleh para penjelajah, para penjajah, atau para misionaris karena perbedaan cara hidup antara masyarakat Eropa dan masyarakat di luar Eropa. Oleh karenanya, mereka bukan hanya menulis tentang perjalanan atau yang terkait dengan tugasnya tetapi juga melengkapinya dengan deskripsi tentang tata cara kehidupan masyarakat yang mereka temui. Deskripsi ini kemudian dikenal dengan sebutan Etnograf. Adapun beberapa karya tulisan mereka, sebagai berikut :
1.      Tulisan Heredutus, seorang bangsa Yunani yang dikenal pula sebagai Bapak sejarah dan etnografi, mengenai bangsa Mesir yang merupakan tulisan etnografi yang paling kuno. Tulisan-tulisan etnografi pada masa awal masih bersifat subjektif, penuh dengan prasangka dan bersifat etnosentrisme. Etnosentrisme adalah sebuah pandangan atau sikap dimana suku bangsa di anggap lebih baik dan dijadikan ukuran dalam melihat baik buruknya karakter suku bangsa lainnya. Orang Yunani pada masa itu menganggap bahwa suku-suku bangsa selain orang Yunani seperti orang Mesir, Libia, dan Persia termasuk dalam suku bangsa yang masih setengah liar dan belum beradab. Pandangan seperti ini juga tersirat dalam tulisan Heredutus yang mendeskripsikan suku bangsa Mesir tersebut.
2.      Pada jaman romawi kuno terdapat pula beberapa hasil  karya etnografi mengenai kehidupan suku bangsa Germania dan Galia yang ditulis oleh Tacitus dan Caesar. Sebagai seorang perwira yang memimpin perjalanan tentaranya sampai ke Eropa barat, Caesar menulis etnografinya secara sistematis seperti halnya laporan seorang perwira. Sedangkan Tacitus menulis etnografinya dengan gaya bahasa yang mengungkap perasaan dan kegalauannya tentang kehidupan yang terdapat di ibu kota kerajaan Roma.
3.      Pencatat etnografi yang cukup terkenal adalah Marco Polo (1254-1323). Ia mengembara dengan keluarga besarnya ke daerah Asia timur dan sempat menetap di istana Khu Bilai Khan. Disini Ia melihat beberapa kebiasaan yang dianggapnya aneh, yaitu penggunaan uang yang terbuar dari kertas dan diberi cap serta ditandatangani dimana uang tersebut mempunyai bermacam-macam nilai. Marco Polo juga pernah singgah di daratan Indonesia (yang diketahui dari tulisannya), dimana Ia pernah singgah di beberapa pelabuhan dari semanjung Malaya hingga menelusuri pulau Sumatra, diantaranya singgah di pelabuhan Perlec (dalam bahasa Aceh) Peureula atau perlak (dalam bahasa Melayu). Marco Polo menceritakan kehidupan di kota pelabuhan ini dimana pedangan India dan penduduk pribuminya menganut agama Islam sedangkan penduduk yang ada di pedalaman masih mengerjakan hal-hal yang haram.
4.      Tulisan etnografi yang dianggap lebih baik dan objektif justru adalah buah tangan dari seorang padri berbangsa Prancis yaitu Yoseph Francis Lafitau (1600-1740). Ia mencoba membandingkan antara kebiasaan dan tata susila orang Indian yang hendak dinasranikan dengan adat istiadat bangsa Eropa kuno. Hasilnya, Ia beranggapan bahwa bangsa primitive (Indian) tidak dilihatnya sebagai manusia yang aneh. Akan tetapi bahan yang dipertimbangkannya sangat terbatas maka pandangannya tentang perbandingan ini pun sangat terbatas.
5.      Ahli etnografi, dalam arti yang modern adalah Jeans Kreft, seorang guru besar pada akademi di Soro. Ia menulis sebuah buku yang berjudul “Sejarah Pendek Tentang Lembaga-Lembaga Yang Terpenting, Adat Pandangan-Pandangan Orang Liar” 1760. Jens Kreft adalah seorang ahli filsafat, dimana Ia tidak sependapat dengan pandangan Rousseau tentang manusia. Pandangan Kesn Kreft tentang manusia lebih dianggap mewakili pandangan sebagai seorang ahli etnologi daripada pandangan para ahli filsafat. Tulisan etnografinya adalah mengenai dua suku Indian, yaitu Lule dan Caingua di Amerika selatan, yang pada awalnya mempunyai kebudayaan yang rendah. Ternyata dugaannya salah. Ia pun dipandang sebagai orang yang pertama yang menulis etnografi secara lengkap yaitu dengan memperhatikan aspek pertumbuhan, ekonomi, masyarakat, agama dan kesenian.
6.      Ahli berikutnya yang dianggap sebagai pendorong penulisan ilmiah dan sistematis mengenai etnografi Adolf Bastian. Ia memberikan pandangan mengenai kesatuan kebudayaan yang dimiliki oleh suatu masyarakat, dimana suatu kebudayaan memiliki sifat-sifatnya yang khusus tumbuh dan berkembang sesuai dengan dasarnya dan lingkungannya.

Penelitian secara ilmiah mengenai antropologi berkembang pesat setelah ditemukan atau setelah diketahui adanya hubungan antara Sanskerta, Latin, Yunani, dan Germania, sehingga memungkinkan lebih banyak tersedia bahan-bahan etnografi sebagai bahan perbandingan. Atas dasr ini kemudian timbul penelitian yang bersifat historis komparatif mengenai kebudayaan. Dalam keperluan ini, berdirilah lembaga-lembaga etnologi seperti Museum Etnografi yang didirikan oleh G.J. Thomson di Kopenhagen tahun 1841, Museum Etnologi di Hamburg tahun 1850, The Peabody Museum Of Archeology and Ethonology di Harvad tahun 1866, American Ethnological Society di New York tahun 1842, Ethnological society of London di Inggris tahun 1843, dan Bureau of American ethonology di Amerika tahun 1875.
Selama abad ke 20, penelitian antropologi dan etnologi makin berkembang, terutama di pusat-pusat kajian antropologi dan etnologi seperti di Amerika serikat, Inggris, Afrika selatan, Australia, Eropa barat, Eropa tengah, Eropa utara, Uni Soviet, dan Meksiko. Di Indonesia, bahan-bahan etnografi juga telah dikumpulkan terutama menyangkut adat istiadat, system kepercayaan, struktur sosial dan kesenian. bahan-bahan etnografi tentang Indonesia banyak dikumpulkan oleh para pegawai pemerintah jajahan, diantaranya yang terkenal adalah T.S. Raffles mantan Letnan Gubernur Jendral di Indonesia (antara tahun 1811 hingga 1815). Raffles banyak menulis kebudayaan penduduk pribumi Indonesia, diantaranya adalah dua jilid etnografi tentang kebudayaan Jawa (1817).













2.2.  Definisi Antropologi
Anthropologi berasal dari kata Yunani άνθρωπος (baca: anthropos) yang berarti "manusia" atau "orang", dan logos yang berarti "wacana" (dalam pengertian "bernalar", "berakal"). Anthropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.
Menurut para ahli definisi antropologi adalah sebagai berikut:
·         William A. Havilland: Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
·         David Hunter: anthropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.
·         Koentjaraningrat: Anthropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.
Dari definisi-definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana antropologi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari tentang segala aspek dari manusia, yang terdiri dari aspek fisik dan nonfisik berupa warna kulit, bentuk rambut, bentuk mata, kebudayaan, aspek politik, dan berbagai pengetahuan tentang corak kehidupan lainnya yang bermanfaat.
Secara garis besar antropologi  memiliki cabang-cabang ilmu yang terdiri dari:
A.    Antropologi Fisik
1.      Paleoantrologi adalah ilmu yang mempelajari asal usul manusia dan evolusi manusia dengan meneliti fosil-fosil.
2.      Somatologi adalah ilmu yang mempelajari keberagaman ras manusia dengna mengamati ciri-ciri fisik.
B.     Antropologi Budaya
1.      Prehistori adalah ilmu yang mempelajari sejarah penyebaran dan perkembangan budaya manusia mengenal tulisan.
2.      Etnolinguistik antrologi adalah ilmu yang mempelajari suku-suku bangsa yang ada di dunia / bumi.
3.      Etnologi adalah ilmu yang mempelajari asas kebudayaan manusia di dalam kehidupan masyarakat suku bangsa di seluruh dunia.
4.      Etnopsikologi adalah ilmu yang mempelajari kepribadian bangsa serta peranan individu pada bangsa dalam proses perubahan adat istiadat dan nilai universal dengan berpegang pada konsep psikologi.


2.3.  Fase-fase Perkembangan Antropologi
Seperti halnya sosiologi, antropologi sebagai sebuah ilmu juga mengalami tahapan-tahapan dalam perkembangannya.Koentjaraninggrat menyusun perkembangan ilmu Antropologi menjadi empat fase sebagai berikut:
·         Fase Pertama (Sebelum tahun 1800-an)
Manusia dan kebudayaannya, sebagai bahan kajian Antropologi. Sekitar abad ke-15-16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi dunia. Mulai dari Afrika, Amerika, Asia, hingga ke Australia. Dalam penjelajahannya mereka banyak menemukan hal-hal baru. Mereka juga banyak menjumpai suku-suku yang asing bagi mereka. Kisah-kisah petualangan dan penemuan mereka kemudian mereka catat di buku harian ataupun jurnal perjalanan. Mereka mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan suku-suku asing tersebut. Mulai dari ciri-ciri fisik, kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari suku tersebut. Bahan-bahan yang berisi tentang deskripsi suku asing tersebut kemudian dikenal dengan bahan etnografi atau deskripsi tentang bangsa-bangsa.
Bahan etnografi itu menarik perhatian pelajar-pelajar di Eropa. Kemudian, pada permulaan abad ke-19 perhatian bangsa Eropa terhadap bahan-bahan etnografi suku luar Eropa dari sudut pandang ilmiah, menjadi sangat besar. Karena itu, timbul usaha-usaha untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan etnografi.
·         Fase Kedua (tahun 1800-an)
Pada fase ini, bahan-bahan etnografi tersebut telah disusun menjadi karangan-karangan berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu. masyarakat dan kebudayaan berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang lama. Mereka menganggap bangsa-bangsa selain Eropa sebagai bangsa-bangsa primitif yang tertinggal, dan menganggap Eropa sebagai bangsa yang tinggi kebudayaannya
Pada fase ini, Antopologi bertujuan akademis, mereka mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk memperoleh pemahaman tentang tingkat-tingkat sejarah penyebaran kebudayaan manusia.

·         Fase Ketiga (awal abad ke-20)
Pada fase ini, negara-negara di Eropa berlomba-lomba membangun koloni di benua lain seperti Asia, Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-koloni tersebut, muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli, pemberontakan-pemberontakan, cuaca yang kurang cocok bagi bangsa Eropa serta hambatan-hambatan lain. Dalam menghadapinya, pemerintahan kolonial negara Eropa berusaha mencari-cari kelemahan suku asli untuk kemudian menaklukannya. Untuk itulah mereka mulai mempelajari bahan-bahan etnografi tentang suku-suku bangsa di luar Eropa, mempelajari kebudayaan dan kebiasaannya, untuk kepentingan pemerintah kolonial.
·         Fase Keempat (setelah tahun 1930-an)
Pada fase ini, antropologi berkembang secara pesat. Kebudayaan-kebudayaan suku bangsa asli yang di jajah bangsa Eropa, mulai hilang akibat terpengaruh kebudayaan bangsa Eropa.
Pada masa ini pula terjadi sebuah perang besar di Eropa, Perang Dunia II. Perang ini membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia dan membawa sebagian besar negara-negara di dunia kepada kehancuran total. Kehancuran itu menghasilkan kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kesengsaraan yang tak berujung.
Namun pada saat itu juga, muncul semangat nasionalisme bangsa-bangsa yang dijajah Eropa untuk keluar dari belenggu penjajahan. Sebagian dari bangsa-bangsa tersebut berhasil mereka. Namun banyak masyarakatnya yang masih memendam dendam terhadap bangsa Eropa yang telah menjajah mereka selama bertahun-tahun.
Proses-proses perubahan tersebut menyebabkan perhatian ilmu antropologi tidak lagi ditujukan kepada penduduk pedesaan di luar Eropa, tetapi juga kepada suku bangsa di daerah pedalaman Eropa seperti suku bangsa Soami, Flam dan Lapp.
Dalam fase ini ilmu antropologi mengalami masa perkembangan yang paling luas, baik mengenai bertambahnya bahan pengetahuan yang jauh lebih teliti, maupun mengenai ketajaman dari metode-metode ilmiahnya. Kecuali itu kita lihat adanya dua perubahan di dunia :
1.      Timbulnya antipati terhadap kolonialisme sesudah Perang Dunia II.
2.      Cepat hilangnya bangsa-bangsa primitiaf (dalam arti bangsa-bangsa asli dan terpencil dari pengaruh kebudayaan Eropa-Amerika) yang sekitar tahun 1930 mulai hilang, dan sesudah Perang Dunia II memang hampir tak ada lagi di muka bumi ini.
Tujuannya Ilmu Antropologi dalam fase perkembangannya yang keempat ini dapat dibagi dua, yaitu tujuan akademikal, dan tujuan praktisnya.
1.      Tujuan akademikalnya adalah mencapai pengertian tentang makhluk manusiapada umumnya dengan mempelajari anekawarna bentuk fisiknya, masyarakat, serta kebudayaannya, dan
2.      Tujuan praktisnya adalah mempelajari manusia dalam aneka warna masyarakat suku-bangsa guna membangun masyarakat suku-bangsa itu.

Ø  Antropologi Masa Kini
Pebedaan-Perbedaan di Berbagai Pusat Ilmiah. Uraian mengenai keempat fase perkembangan ilmu antropologi di atas tadi adalah perlu untuk suatu pengertian tentang tujuan dan ruang-lingkupnya.
Di Amerika Serikat ilmu antropologi telah memakai dan mengintegrasikan seluruh warisan bahan dan metode dari ilmu antropologi dalam fasenya yang pertama, kedua, ketiga, ditambah dengan berbagai spesialisasi.
Di Inggris serta negara-negara yang ada di bawah pengaruhnya, seperti Australia, Ilmu antropologi dalam fase perkembangannya yang ketiga masih dilakukan,tetapi dengan hilangnya daerah-daerah jajahan Inggris.
Di Eropa Tengah seperti Jerman, Austria dan swiss, hingga hanya kira-kira 15 tahun yang lalu ilmu antropologi di sana masih bertujuan mempelajari bangsa-bangsa di luar Eropa untuk mencapai pengertian tentang sejarah.
Di Eropa Utara, di negara-negara Skandinavia, ilmu antropologi untuk sebagian bersifat akademikal seperti di Jerman dan Austria.
Di Uni Soviet perkembangan ilmu antropologi tidak banyak dikenal di pusat-pusat ilmiah lain di dunia, karena Uni Soviet hingga kira-kira sekitar tahun 1960 memang seolah-olah mengisolasikan diri dari dunia lainnya.

BAB III
PENUTUP
3.1.  Kesimpulan
Antropologi pada masa perkembangan awalnya tidak dapat dipisahkan dengan karya-karya para penulis yang mencatat gambaran kehidupan penduduk atau suku bangsa di luar Eropa. Pada saat itu, kehidupan penduduk di luar Eropa dipandang menarik oleh para penjelajah, para penjajah, atau para misionaris karena perbedaan cara hidup antara masyarakat Eropa dan masyarakat di luar Eropa. Oleh karenanya, mereka bukan hanya menulis tentang perjalanan atau yang terkait dengan tugasnya tetapi juga melengkapinya dengan deskripsi tentang tata cara kehidupan masyarakat yang mereka temui. Deskripsi ini kemudian dikenal dengan sebutan Etnograf.
Anthropologi berasal dari kata Yunani άνθρωπος (baca: anthropos) yang berarti "manusia" atau "orang", dan logos yang berarti "wacana" (dalam pengertian "bernalar", "berakal"). Anthropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.
Seperti halnya sosiologi, antropologi sebagai sebuah ilmu juga mengalami tahapan-tahapan dalam perkembangannya.Koentjaraninggrat menyusun perkembangan ilmu Antropologi menjadi empat fase sebagai berikut:
·         Fase Pertama (Sebelum tahun 1800-an)
·         Fase Kedua (tahun 1800-an)
·         Fase Ketiga (awal abad ke-20)
·         Fase Keempat (setelah tahun 1930-an)

Ø  Antropologi Masa Kini
Pebedaan-Perbedaan di Berbagai Pusat Ilmiah. Uraian mengenai keempat fase perkembangan ilmu antropologi di atas tadi adalah perlu untuk suatu pengertian tentang tujuan dan ruang-lingkupnya.




3.2.  Saran
Semoga dengan adanya makalah yang berjudul “ PERKEMBANGAN ILMU ANTROPOLOGI ” dapat menambah pengetahuan kita tentang ilmu antropologi, dan membuat kita tertarik untuk mempelajarinya. Mulai dari sejarah lahirnya ilmu antropologi, definisi ilmu antropologi, dan fase-fase perkembangan antropologi, karena semua itu menarik untuk dipelajari.


























DAFRAT PUSTAKA

Drs. Wawan Ruswanto, M.Si. 2001. Modul 1 Pengantar Antropologi. Jakarta: Bumi Aksara

Marzali, Amri. 2005. Antropologi dan Pembangunan Indonesia. Jakarta, Prenada Media

http:// wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas /2011/05/10/ Antropologi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar