BAB
I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Antropologi sebagai disiplin ilmu yang terus berkembang,
yang tidak hanya pada tataran teoritis tetapi juga sebagai ilmu terapan yang
mampu memberikan masukan bagi para pembuat keputusan dalam menentukan kebijakan
pembangunan.
Di Indonesia perkembangan antropologi sebagai disiplin ilmu
yang dipelajari para mahasiswa di perguruan tinggi masih tergolong baru. Salah
satu tokoh penting dalam perkembangan di Indonesia Koentjaraningrat, sehingga
dapat dikatakan bahwa Ia merupakan bapak antropologi di Indonesia.
Sebagai disiplin ilmu antropologi merupakan kajian
multidispliner yang berupaya mengkaji aspek manusia secara menyeluruh
(holistik). Secara historis antropologi berkembang dari suatu deskripsi
hasil-hasil laporan perjalanan para penjelajah dan penjajah tentang kehidupan
manusia di daerah yang disinggahi para penjelajah, atau kehidupan salah satu
suku bangsa yang tinggal di daerah jajahan. Deskripsi tersebut dikenal dengan
nama etnografi.
Dalam perjalanannya antropologi berkembang sebagaimana
keberadaannya sekarang baik di negara-negara Eropa barat, Amerika maupun di
Asia. Beberapa cabang antropologi yang dikenal secara luas saat ini adalah
antropologi fisik atau biologi, antropologi social, dan antropologi budaya. Disisi
yang lain antropologi juga merupakan bidang ilmu terapan sehingga hasil
kajiannya dapat dimanfaatkan sebagai masukan dalam pengambilan keputusan untuk
keperluan pembangunan, terutama dalam pembangunan dalam sosial budaya, seperti
antropologi pembangunan, antropologi kesehatan, antropologi ekonomi dan
sebagainya.
1.2.Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan
permasalahan dalam penulisan ini seperti berikut ini:
1. Bagaimanakah
latar belakang lahirnya antropologi,,,,???
2. Apa
Definisi antropologi,,,,,???
3. Bagaimanakah
fase-fase perkembangan antropologi,,,???
1.3. Tujuan Penulisan
Adapun yang menjadi tujuan
penulisan ini, seperti berikut ini:
1. Untuk
memenuhi tugas mata kuliah Antropologi
2. Sebagai
bahan referensi tambahan dalam hal peningkatan pengetahuan tentang perkembangan
antropologi.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1.
Latar
Belakang Lahirnya Antropologi
Antropologi pada
masa perkembangan awalnya tidak dapat dipisahkan dengan karya-karya para
penulis yang mencatat gambaran kehidupan penduduk atau suku bangsa di luar
Eropa. Pada saat itu, kehidupan penduduk di luar Eropa dipandang menarik oleh
para penjelajah, para penjajah, atau para misionaris karena perbedaan cara
hidup antara masyarakat Eropa dan masyarakat di luar Eropa. Oleh karenanya,
mereka bukan hanya menulis tentang perjalanan atau yang terkait dengan tugasnya
tetapi juga melengkapinya dengan deskripsi
tentang tata cara kehidupan masyarakat yang mereka temui. Deskripsi ini
kemudian dikenal dengan sebutan Etnograf.
Adapun beberapa karya tulisan mereka, sebagai berikut :
1. Tulisan
Heredutus, seorang bangsa Yunani yang dikenal pula sebagai Bapak sejarah dan
etnografi, mengenai bangsa Mesir yang merupakan tulisan etnografi yang paling
kuno. Tulisan-tulisan etnografi pada masa awal masih bersifat subjektif, penuh
dengan prasangka dan bersifat etnosentrisme. Etnosentrisme adalah sebuah
pandangan atau sikap dimana suku bangsa di anggap lebih baik dan dijadikan
ukuran dalam melihat baik buruknya karakter suku bangsa lainnya. Orang Yunani
pada masa itu menganggap bahwa suku-suku bangsa selain orang Yunani seperti
orang Mesir, Libia, dan Persia termasuk dalam suku bangsa yang masih setengah
liar dan belum beradab. Pandangan seperti ini juga tersirat dalam tulisan
Heredutus yang mendeskripsikan suku bangsa Mesir tersebut.
2. Pada
jaman romawi kuno terdapat pula beberapa hasil
karya etnografi mengenai kehidupan suku bangsa Germania dan Galia yang
ditulis oleh Tacitus dan Caesar. Sebagai seorang perwira yang memimpin
perjalanan tentaranya sampai ke Eropa barat, Caesar menulis etnografinya secara
sistematis seperti halnya laporan seorang perwira. Sedangkan Tacitus menulis
etnografinya dengan gaya bahasa yang mengungkap perasaan dan kegalauannya
tentang kehidupan yang terdapat di ibu kota kerajaan Roma.
3. Pencatat
etnografi yang cukup terkenal adalah Marco Polo (1254-1323). Ia mengembara
dengan keluarga besarnya ke daerah Asia timur dan sempat menetap di istana Khu
Bilai Khan. Disini Ia melihat beberapa kebiasaan yang dianggapnya aneh, yaitu
penggunaan uang yang terbuar dari kertas dan diberi cap serta ditandatangani
dimana uang tersebut mempunyai bermacam-macam nilai. Marco Polo juga pernah
singgah di daratan Indonesia (yang diketahui dari tulisannya), dimana Ia pernah
singgah di beberapa pelabuhan dari semanjung Malaya hingga menelusuri pulau
Sumatra, diantaranya singgah di pelabuhan Perlec (dalam bahasa Aceh) Peureula
atau perlak (dalam bahasa Melayu). Marco Polo menceritakan kehidupan di kota
pelabuhan ini dimana pedangan India dan penduduk pribuminya menganut agama
Islam sedangkan penduduk yang ada di pedalaman masih mengerjakan hal-hal yang
haram.
4. Tulisan
etnografi yang dianggap lebih baik dan objektif justru adalah buah tangan dari
seorang padri berbangsa Prancis yaitu Yoseph Francis Lafitau (1600-1740). Ia
mencoba membandingkan antara kebiasaan dan tata susila orang Indian yang hendak
dinasranikan dengan adat istiadat bangsa Eropa kuno. Hasilnya, Ia beranggapan
bahwa bangsa primitive (Indian) tidak dilihatnya sebagai manusia yang aneh.
Akan tetapi bahan yang dipertimbangkannya sangat terbatas maka pandangannya
tentang perbandingan ini pun sangat terbatas.
5. Ahli
etnografi, dalam arti yang modern adalah Jeans Kreft, seorang guru besar pada
akademi di Soro. Ia menulis sebuah buku yang berjudul “Sejarah Pendek Tentang Lembaga-Lembaga Yang Terpenting, Adat Pandangan-Pandangan
Orang Liar” 1760. Jens Kreft adalah seorang ahli filsafat, dimana Ia tidak
sependapat dengan pandangan Rousseau tentang manusia. Pandangan Kesn Kreft
tentang manusia lebih dianggap mewakili pandangan sebagai seorang ahli etnologi
daripada pandangan para ahli filsafat. Tulisan etnografinya adalah mengenai dua
suku Indian, yaitu Lule dan Caingua di Amerika selatan, yang pada awalnya
mempunyai kebudayaan yang rendah. Ternyata dugaannya salah. Ia pun dipandang
sebagai orang yang pertama yang menulis etnografi secara lengkap yaitu dengan
memperhatikan aspek pertumbuhan, ekonomi, masyarakat, agama dan kesenian.
6. Ahli
berikutnya yang dianggap sebagai pendorong penulisan ilmiah dan sistematis
mengenai etnografi Adolf Bastian. Ia memberikan pandangan mengenai kesatuan
kebudayaan yang dimiliki oleh suatu masyarakat, dimana suatu kebudayaan
memiliki sifat-sifatnya yang khusus tumbuh dan berkembang sesuai dengan dasarnya
dan lingkungannya.
Penelitian
secara ilmiah mengenai antropologi berkembang pesat setelah ditemukan atau
setelah diketahui adanya hubungan antara Sanskerta, Latin, Yunani, dan
Germania, sehingga memungkinkan lebih banyak tersedia bahan-bahan etnografi
sebagai bahan perbandingan. Atas dasr ini kemudian timbul penelitian yang
bersifat historis komparatif mengenai kebudayaan. Dalam keperluan ini,
berdirilah lembaga-lembaga etnologi seperti Museum Etnografi yang didirikan
oleh G.J. Thomson di Kopenhagen tahun 1841, Museum Etnologi di Hamburg tahun
1850, The Peabody Museum Of Archeology and Ethonology di Harvad tahun 1866,
American Ethnological Society di New York tahun 1842, Ethnological society of
London di Inggris tahun 1843, dan Bureau of American ethonology di Amerika
tahun 1875.
Selama abad ke
20, penelitian antropologi dan etnologi makin berkembang, terutama di
pusat-pusat kajian antropologi dan etnologi seperti di Amerika serikat,
Inggris, Afrika selatan, Australia, Eropa barat, Eropa tengah, Eropa utara, Uni
Soviet, dan Meksiko. Di Indonesia, bahan-bahan etnografi juga telah dikumpulkan
terutama menyangkut adat istiadat, system kepercayaan, struktur sosial dan
kesenian. bahan-bahan etnografi tentang Indonesia banyak dikumpulkan oleh para
pegawai pemerintah jajahan, diantaranya yang terkenal adalah T.S. Raffles
mantan Letnan Gubernur Jendral di Indonesia (antara tahun 1811 hingga 1815).
Raffles banyak menulis kebudayaan penduduk pribumi Indonesia, diantaranya
adalah dua jilid etnografi tentang kebudayaan Jawa (1817).
2.2.
Definisi
Antropologi
Anthropologi berasal dari kata Yunani άνθρωπος (baca: anthropos)
yang berarti "manusia" atau "orang", dan logos
yang berarti "wacana" (dalam pengertian
"bernalar", "berakal"). Anthropologi mempelajari manusia
sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.
Menurut
para ahli definisi antropologi adalah sebagai berikut:
·
William A. Havilland: Antropologi adalah studi tentang umat
manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan
perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang
keanekaragaman manusia.
·
David Hunter: anthropologi adalah ilmu yang lahir dari
keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.
·
Koentjaraningrat: Anthropologi adalah ilmu yang mempelajari
umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik
masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.
Dari definisi-definisi tersebut, dapat disusun pengertian
sederhana antropologi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari tentang segala aspek
dari manusia, yang terdiri dari aspek fisik dan nonfisik berupa warna kulit,
bentuk rambut, bentuk mata, kebudayaan, aspek politik, dan berbagai pengetahuan
tentang corak kehidupan lainnya yang bermanfaat.
Secara garis besar antropologi memiliki cabang-cabang ilmu yang terdiri dari:
A. Antropologi Fisik
1. Paleoantrologi adalah ilmu yang
mempelajari asal usul manusia dan evolusi manusia dengan meneliti fosil-fosil.
2. Somatologi adalah ilmu yang
mempelajari keberagaman ras manusia dengna mengamati ciri-ciri fisik.
B. Antropologi Budaya
1. Prehistori adalah ilmu yang
mempelajari sejarah penyebaran dan perkembangan budaya manusia mengenal
tulisan.
2. Etnolinguistik antrologi adalah ilmu
yang mempelajari suku-suku bangsa yang ada di dunia / bumi.
3. Etnologi adalah ilmu yang
mempelajari asas kebudayaan manusia di dalam kehidupan masyarakat suku bangsa
di seluruh dunia.
4. Etnopsikologi adalah ilmu yang
mempelajari kepribadian bangsa serta peranan individu pada bangsa dalam proses
perubahan adat istiadat dan nilai universal dengan berpegang pada konsep
psikologi.
2.3.
Fase-fase
Perkembangan Antropologi
Seperti halnya sosiologi, antropologi sebagai sebuah ilmu
juga mengalami tahapan-tahapan dalam perkembangannya.Koentjaraninggrat menyusun
perkembangan ilmu Antropologi menjadi empat fase sebagai berikut:
·
Fase
Pertama (Sebelum tahun 1800-an)
Manusia dan kebudayaannya, sebagai bahan kajian Antropologi.
Sekitar abad ke-15-16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk
menjelajahi dunia. Mulai dari Afrika, Amerika, Asia, hingga ke Australia. Dalam penjelajahannya mereka
banyak menemukan hal-hal baru. Mereka juga banyak menjumpai suku-suku yang asing bagi mereka. Kisah-kisah
petualangan dan penemuan mereka kemudian mereka catat di buku harian ataupun
jurnal perjalanan. Mereka mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan
suku-suku asing tersebut. Mulai dari ciri-ciri fisik, kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari suku tersebut.
Bahan-bahan yang berisi tentang deskripsi suku asing tersebut kemudian dikenal
dengan bahan etnografi atau deskripsi tentang
bangsa-bangsa.
Bahan etnografi itu menarik perhatian pelajar-pelajar di
Eropa. Kemudian, pada permulaan abad ke-19 perhatian bangsa Eropa terhadap
bahan-bahan etnografi suku luar Eropa dari sudut pandang ilmiah, menjadi sangat
besar. Karena itu, timbul usaha-usaha untuk mengintegrasikan seluruh himpunan
bahan etnografi.
·
Fase Kedua
(tahun 1800-an)
Pada fase ini, bahan-bahan etnografi tersebut telah disusun
menjadi karangan-karangan berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu.
masyarakat dan kebudayaan berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka
waktu yang lama. Mereka menganggap bangsa-bangsa selain Eropa sebagai
bangsa-bangsa primitif yang tertinggal, dan menganggap
Eropa sebagai bangsa yang tinggi kebudayaannya
Pada fase ini, Antopologi bertujuan akademis, mereka mempelajari masyarakat dan
kebudayaan primitif dengan maksud untuk memperoleh pemahaman tentang
tingkat-tingkat sejarah penyebaran kebudayaan manusia.
·
Fase
Ketiga (awal abad ke-20)
Pada fase ini, negara-negara di Eropa berlomba-lomba
membangun koloni di benua lain seperti Asia,
Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-koloni tersebut,
muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli,
pemberontakan-pemberontakan, cuaca yang kurang cocok bagi bangsa Eropa serta
hambatan-hambatan lain. Dalam menghadapinya, pemerintahan kolonial negara Eropa
berusaha mencari-cari kelemahan suku asli untuk kemudian menaklukannya. Untuk
itulah mereka mulai mempelajari bahan-bahan etnografi tentang suku-suku bangsa
di luar Eropa, mempelajari kebudayaan dan kebiasaannya, untuk kepentingan
pemerintah kolonial.
·
Fase
Keempat (setelah tahun 1930-an)
Pada fase ini, antropologi berkembang secara pesat.
Kebudayaan-kebudayaan suku bangsa asli yang di jajah bangsa Eropa, mulai hilang
akibat terpengaruh kebudayaan bangsa Eropa.
Pada masa ini pula terjadi sebuah perang besar di Eropa, Perang Dunia II. Perang ini membawa banyak perubahan
dalam kehidupan manusia dan membawa sebagian besar negara-negara di dunia
kepada kehancuran total. Kehancuran itu menghasilkan kemiskinan, kesenjangan
sosial, dan kesengsaraan yang tak berujung.
Namun pada saat itu juga, muncul semangat nasionalisme bangsa-bangsa yang dijajah Eropa
untuk keluar dari belenggu penjajahan. Sebagian dari bangsa-bangsa tersebut
berhasil mereka. Namun banyak masyarakatnya yang masih memendam dendam terhadap
bangsa Eropa yang telah menjajah mereka selama bertahun-tahun.
Proses-proses perubahan tersebut menyebabkan perhatian ilmu
antropologi tidak lagi ditujukan kepada penduduk pedesaan di luar Eropa, tetapi
juga kepada suku bangsa di daerah pedalaman Eropa seperti suku bangsa Soami,
Flam dan Lapp.
Dalam fase ini ilmu antropologi mengalami masa perkembangan
yang paling luas, baik mengenai bertambahnya bahan pengetahuan yang jauh lebih
teliti, maupun mengenai ketajaman dari metode-metode ilmiahnya. Kecuali itu
kita lihat adanya dua perubahan di dunia :
1. Timbulnya antipati terhadap
kolonialisme sesudah Perang Dunia II.
2. Cepat hilangnya bangsa-bangsa
primitiaf (dalam arti bangsa-bangsa asli dan terpencil dari pengaruh kebudayaan
Eropa-Amerika) yang sekitar tahun 1930 mulai hilang, dan sesudah Perang Dunia
II memang hampir tak ada lagi di muka bumi ini.
Tujuannya Ilmu Antropologi dalam fase perkembangannya yang
keempat ini dapat dibagi dua, yaitu tujuan akademikal, dan tujuan praktisnya.
1. Tujuan akademikalnya adalah mencapai
pengertian tentang makhluk manusiapada umumnya dengan mempelajari anekawarna
bentuk fisiknya, masyarakat, serta kebudayaannya, dan
2. Tujuan praktisnya adalah mempelajari
manusia dalam aneka warna masyarakat suku-bangsa guna membangun masyarakat suku-bangsa
itu.
Ø Antropologi Masa Kini
Pebedaan-Perbedaan di Berbagai Pusat Ilmiah. Uraian mengenai
keempat fase perkembangan ilmu antropologi di atas tadi adalah perlu untuk
suatu pengertian tentang tujuan dan ruang-lingkupnya.
Di Amerika Serikat ilmu antropologi telah memakai dan
mengintegrasikan seluruh warisan bahan dan metode dari ilmu antropologi dalam
fasenya yang pertama, kedua, ketiga, ditambah dengan berbagai spesialisasi.
Di Inggris serta negara-negara yang ada di bawah
pengaruhnya, seperti Australia, Ilmu antropologi dalam fase perkembangannya
yang ketiga masih dilakukan,tetapi dengan hilangnya daerah-daerah jajahan
Inggris.
Di Eropa Tengah seperti Jerman, Austria dan swiss, hingga
hanya kira-kira 15 tahun yang lalu ilmu antropologi di sana masih bertujuan
mempelajari bangsa-bangsa di luar Eropa untuk mencapai pengertian tentang
sejarah.
Di Eropa Utara, di negara-negara Skandinavia, ilmu
antropologi untuk sebagian bersifat akademikal seperti di Jerman dan Austria.
Di Uni Soviet perkembangan ilmu antropologi tidak banyak
dikenal di pusat-pusat ilmiah lain di dunia, karena Uni Soviet hingga kira-kira
sekitar tahun 1960 memang seolah-olah mengisolasikan diri dari dunia lainnya.
BAB III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
Antropologi pada masa perkembangan awalnya tidak dapat
dipisahkan dengan karya-karya para penulis yang mencatat gambaran kehidupan
penduduk atau suku bangsa di luar Eropa.
Pada saat itu, kehidupan penduduk di luar Eropa dipandang menarik oleh para
penjelajah, para penjajah, atau para misionaris karena perbedaan cara hidup
antara masyarakat Eropa dan masyarakat di luar Eropa. Oleh karenanya, mereka
bukan hanya menulis tentang perjalanan atau yang terkait dengan tugasnya tetapi
juga melengkapinya dengan deskripsi
tentang tata cara kehidupan masyarakat yang mereka temui. Deskripsi ini
kemudian dikenal dengan sebutan Etnograf.
Anthropologi berasal dari kata Yunani άνθρωπος (baca: anthropos)
yang berarti "manusia" atau "orang", dan logos
yang berarti "wacana" (dalam pengertian
"bernalar", "berakal"). Anthropologi mempelajari manusia
sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.
Seperti halnya sosiologi, antropologi sebagai sebuah ilmu
juga mengalami tahapan-tahapan dalam perkembangannya.Koentjaraninggrat menyusun
perkembangan ilmu Antropologi menjadi empat fase sebagai berikut:
·
Fase
Pertama (Sebelum tahun 1800-an)
·
Fase Kedua
(tahun 1800-an)
·
Fase
Ketiga (awal abad ke-20)
·
Fase
Keempat (setelah tahun 1930-an)
Ø Antropologi Masa Kini
Pebedaan-Perbedaan di Berbagai Pusat Ilmiah. Uraian mengenai
keempat fase perkembangan ilmu antropologi di atas tadi adalah perlu untuk
suatu pengertian tentang tujuan dan ruang-lingkupnya.
3.2.
Saran
Semoga dengan adanya
makalah yang berjudul “ PERKEMBANGAN ILMU ANTROPOLOGI ” dapat menambah
pengetahuan kita tentang ilmu antropologi, dan membuat kita tertarik untuk
mempelajarinya. Mulai dari sejarah lahirnya ilmu antropologi, definisi ilmu
antropologi, dan fase-fase perkembangan antropologi, karena semua itu menarik
untuk dipelajari.
DAFRAT
PUSTAKA
Drs. Wawan Ruswanto, M.Si.
2001. Modul 1 Pengantar Antropologi.
Jakarta: Bumi Aksara
Marzali, Amri. 2005. Antropologi dan Pembangunan Indonesia.
Jakarta, Prenada Media
http:// wikipedia bahasa Indonesia,
ensiklopedia bebas /2011/05/10/ Antropologi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar